Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi, Saat Doa Leluhur Menggema di Kaki Pegunungan Sukabumi

Advertisement

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Label

Pengikut

Wikipedia

Hasil penelusuran

Entri yang Diunggulkan

Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi, Saat Doa Leluhur Menggema di Kaki Pegunungan Sukabumi

  KABAR UPDATE | SUKABUMI — Ribuan masyarakat tumpah ruah memadati Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, ...

Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi, Saat Doa Leluhur Menggema di Kaki Pegunungan Sukabumi

KABAR UPDATE
Kamis, 09 Juli 2026

 


KABAR UPDATE | SUKABUMI — Ribuan masyarakat tumpah ruah memadati Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Minggu (5/7/2026). Langkah demi langkah masyarakat dari berbagai daerah menyatu dalam suasana sakral puncak perayaan Seren Taun ke-447, tradisi turun-temurun yang telah bertahan selama ratusan tahun sebagai wujud syukur masyarakat adat kepada Sang Pencipta.


Sejak pagi hari, denyut kehidupan di kampung adat terasa berbeda. Alunan musik tradisional, suara dogdog lojor yang menggema, serta lantunan doa dan kidung adat seolah membelah keheningan pegunungan. Warga, tokoh adat, hingga tamu undangan larut dalam suasana yang sarat makna, menyaksikan sebuah warisan leluhur yang terus bertahan melawan derasnya arus zaman.


Rangkaian prosesi adat digelar dengan penuh khidmat. Mulai dari tumbuk padi, saresehan bersama baris olot kasepuhan, dongdang, dogdog lojor, seni debus, rengkong, gondang buhun, tari tani, hingga pameran karya incu putu Kasepuhan menjadi gambaran kekayaan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.


Namun perhatian ribuan pasang mata tertuju pada satu prosesi yang menjadi inti sekaligus momen paling sakral dalam Seren Taun, yakni Ngampih Pare ka Leuit. Dalam prosesi tersebut, Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, secara simbolis memasukkan ikatan padi hasil panen masyarakat ke Leuit Si Jimat.


Suasana mendadak hening. Kidung Pohaci menggema perlahan diiringi alunan suling dan petikan kecapi yang menyayat keheningan. Momen itu seakan membawa masyarakat kembali pada jejak leluhur, mengingatkan bahwa padi bukan sekadar hasil bumi, melainkan simbol kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.


Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Sukabumi H. Asep Japar menegaskan bahwa Seren Taun bukan hanya sekadar agenda seremonial tahunan. Menurutnya, tradisi ini menyimpan pesan besar tentang kehidupan.


"Tradisi ini sarat dengan nilai-nilai luhur, mulai dari gotong royong, pelestarian lingkungan, hingga ketahanan pangan. Ini bukan sekadar budaya, tetapi identitas masyarakat yang harus terus dijaga," ujarnya.


Menurut Asep, budaya penyimpanan padi di leuit yang dijalankan masyarakat adat menjadi bukti nyata bagaimana leluhur telah mengajarkan konsep ketahanan pangan jauh sebelum istilah tersebut berkembang seperti saat ini.


Di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman, ia menilai kearifan masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi dalam menjaga alam dan mengelola pangan secara mandiri patut menjadi contoh bagi banyak pihak.


Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian adat dan budaya, termasuk pengembangan potensi kawasan kasepuhan serta peningkatan infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat.


Asep juga mengajak generasi muda atau incu putu untuk tidak melupakan akar budayanya.


"Jangan sampai warisan leluhur ini tergerus perkembangan zaman. Budaya adalah identitas yang harus terus hidup," pesannya.


Sementara itu, Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, menyampaikan bahwa Seren Taun bukan hanya sebatas tradisi yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur dan doa bersama untuk kehidupan yang lebih baik.


"Acara ini bukan hanya warisan, tetapi juga doa bersama agar masa depan penuh keberkahan," ungkapnya.


Menurut Abah Asep, Seren Taun adalah pondasi kehidupan masyarakat adat yang mengajarkan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual. Sebuah warisan yang tak hanya harus dikenang, tetapi juga dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.


Di bawah langit Kasepuhan Sinar Resmi, tradisi kembali berbicara. Bukan sekadar tentang masa lalu, tetapi juga tentang harapan yang terus dijaga untuk masa depan.


Jurnalis: Ismet