Diren Pandimas di Istana Presiden: Sebuah Perjalanan dari Sukabumi untuk Mengisi Kemerdekaan RI ke-81

Advertisement

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Label

Pengikut

Arsip Blog

Wikipedia

Hasil penelusuran

Entri yang Diunggulkan

Diren Pandimas di Istana Presiden: Sebuah Perjalanan dari Sukabumi untuk Mengisi Kemerdekaan RI ke-81

  KABAR UPDATE | JAKARTA - Ada pengalaman yang mungkin hanya datang sekali, tetapi meninggalkan kesan panjang. Bagi tokoh muda inspiratif a...

Diren Pandimas di Istana Presiden: Sebuah Perjalanan dari Sukabumi untuk Mengisi Kemerdekaan RI ke-81

KABAR UPDATE
Selasa, 18 Agustus 2026

 


KABAR UPDATE | JAKARTA - Ada pengalaman yang mungkin hanya datang sekali, tetapi meninggalkan kesan panjang. Bagi tokoh muda inspiratif asal Sukabumi, Diren Pandimas, kesempatan mengikuti upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ke 81, di Istana Presiden menjadi salah satu momen yang tidak mudah dilupakan.


Pria yang dikenal sebagai pakar hukum tersebut mendapat kesempatan hadir langsung dalam momentum peringatan kemerdekaan bersama sejumlah tokoh nasional. 


Di tengah suasana khidmat upacara, Diren Pandimas juga tidak sekadar menjadi bagian dari tamu yang menyaksikan jalannya peringatan, tetapi juga mendapatkan kesempatan bertegur sapa dengan sejumlah figur penting.


Salah satu momen yang berkesan bagi Diren ketika dirinya berkesempatan bertemu dengan Komisaris Jenderal Suyudi Ario Seto, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Diren untuk bertukar sapa sekaligus merasakan atmosfer kebangsaan secara langsung di lingkungan Istana.


Diren juga berkesempatan bertegur sapa dengan Marsekal Madya TNI Ir. Tedi Rizalihadi, S.T., M.M., perwira tinggi TNI Angkatan Udara yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Wakasau).


Bagi Diren, pertemuan dengan para tokoh nasional tersebut menjadi pengalaman yang memiliki arti tersendiri. Ia melihat momentum peringatan kemerdekaan bukan hanya sebagai seremoni, tetapi sebagai pengingat tentang tanggung jawab setiap generasi dalam mengisi kemerdekaan.


“Bisa hadir di Istana dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia merupakan sebuah kehormatan dan pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Apalagi bisa bertemu dan bertegur sapa dengan sejumlah tokoh nasional. Ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang kita nikmati hari ini harus diisi dengan kontribusi nyata,” ujar Diren.


Menurutnya, generasi muda memiliki peran penting dalam meneruskan semangat perjuangan para pendahulu. Peran tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai bidang, termasuk pendidikan, hukum, sosial maupun pengabdian kepada masyarakat.


“Saya percaya anak muda, termasuk dari daerah seperti Sukabumi, memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil peran di tingkat nasional. Yang paling penting adalah terus belajar, menjaga integritas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.


Pengalaman berada di Istana sekaligus menjadi ruang refleksi bagi Diren. Di tengah simbol-simbol kebangsaan dan pertemuan dengan berbagai tokoh, ia melihat bahwa semangat kemerdekaan harus diterjemahkan dalam tindakan yang relevan dengan tantangan zaman.


Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang hukum, Diren menilai generasi muda juga memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai kebangsaan melalui penegakan hukum, penghormatan terhadap konstitusi dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat.


“Kemerdekaan bukan hanya tentang bagaimana kita mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi bagaimana kita meneruskan perjuangan itu dalam bentuk yang sesuai dengan zaman kita. Bagi saya, kontribusi melalui ilmu, profesi dan pengabdian adalah bagian dari cara mengisi kemerdekaan,” tuturnya.


Dari Sukabumi menuju Istana, pengalaman tersebut menjadi satu babak kecil dalam perjalanan Diren Pandimas. "Ini sebuah pengalaman yang tak terlupakan dapat dipertmukan dengan tokoh-tokoh nasional, sekaligus memperkuat keyakinannya bahwa generasi muda daerah memiliki ruang untuk hadir, berkontribusi dan membawa nama daerah ke panggung yang lebih luas," tandasnya.


Jurnalis: Wahyu hidayat