KABARA UPDATE | SUKABUMI — Komunitas pencinta lingkungan Resikbumi terus mendorong masyarakat Kota Sukabumi untuk meningkatkan kepedulian terhadap persoalan sampah dengan mengubah kebiasaan pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Ketua Resikbumi menjelaskan, komunitas tersebut dibentuk sebagai salah satu upaya memperkuat kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Ia mengaku sebelumnya berperan sebagai pembina, namun kemudian meminta untuk menjadi ketua agar dapat turun langsung ke lapangan dan melihat berbagai persoalan sampah yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi salah satu permasalahan yang cukup berat di Kota Sukabumi. Bahkan, sejak pertama kali memasuki wilayah Kota Sukabumi, dirinya mengaku masih melihat banyak sampah berserakan di sejumlah ruas jalan.
Kondisi TPA Cikundul juga menjadi perhatian. Selama ini, TPA tersebut menjadi tempat pembuangan akhir sampah dari Kota Sukabumi. Berdasarkan pengamatannya, area TPA telah beberapa kali berpindah karena lokasi sebelumnya sudah penuh, sementara area yang digunakan saat ini juga dinilai mulai mendekati kapasitas maksimal.
“Kalau sampah terus dibawa dari TPS ke TPA, itu bukan menjadi solusi. Masalahnya hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya menumpuk di TPA,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) selama ini berperan menangani sampah di bagian hilir, mulai dari pengangkutan sampah dari TPS hingga ke TPA. Namun, untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh, diperlukan perubahan pola pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.
Karena itu, Resikbumi bergerak dari sisi hulu dengan memberikan edukasi kepada masyarakat dan sekolah mengenai pentingnya memilah serta mengolah sampah sejak dari rumah.
“Bagaimana menyelesaikan, memilah, dan memproses sampah dari rumah masing-masing, sehingga sampah di Kota Sukabumi tidak semuanya dibuang ke TPS,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat dan anak-anak diberikan pemahaman mengenai empat jenis sampah, yakni organik, anorganik, residu, serta B3 (bahan berbahaya dan beracun).
Sampah organik meliputi sisa makanan, nasi, sayuran, buah-buahan, dan daun. Sementara sampah anorganik antara lain plastik, botol, kaca, kaleng, serta kardus yang masih memiliki nilai guna atau dapat didaur ulang.
Adapun sampah residu meliputi styrofoam, pembalut, dan tisu bekas. Sedangkan sampah B3, seperti baterai, aki bekas, serta wadah bekas bahan berbahaya, perlu ditangani secara khusus.
Masyarakat juga diajak mengolah sampah organik secara mandiri. Salah satu cara yang diperkenalkan yakni memanfaatkan lubang biopori. Bagi warga yang tidak memiliki lahan, pengomposan dapat dilakukan menggunakan wadah atau galon bekas.
Sementara sampah anorganik seperti botol, kaca, kardus, dan plastik dapat dijual, disalurkan kepada pemulung, maupun dimanfaatkan menjadi berbagai produk kreatif.
Dalam kegiatan tersebut turut ditampilkan hasil kreativitas warga, khususnya ibu-ibu RW 09, yang berhasil mengubah sampah anorganik menjadi berbagai karya seni dan hiasan bernilai guna.
Ketua RW 09, Suherlan, turut mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, khususnya dalam menghadapi persoalan sampah.
Ia berharap masyarakat Kampung Cicadas Hilir, khususnya wilayah RW 09 yang meliputi RT 01 hingga RT 04, dapat terus menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, serta kekompakan antarwarga.
Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut juga terlihat dalam rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Berbagai kegiatan digelar masyarakat, mulai dari jalan santai, pertunjukan barongsai, hingga sejumlah perlombaan dan kegiatan hiburan lainnya.
“Yang paling penting, kami berharap kebersihan lingkungan tetap terjaga. Masyarakat juga tetap aman dan kondusif, serta kekompakan warga, karang taruna, dan para pemuda terus terjalin,” ujar Suherlan.
Antusiasme masyarakat Kampung Cicadas Hilir se-RW 09 terlihat dalam berbagai kegiatan tersebut. Warga dari RT 01 hingga RT 04 turut menampilkan kreativitas masing-masing sehingga rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI berlangsung meriah dan lancar.
Kegiatan Resikbumi sekaligus menegaskan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Dengan membiasakan memilah dan mengolah sampah dari rumah, volume sampah yang dibuang ke TPS maupun TPA Cikundul diharapkan dapat terus ditekan.
Resikbumi pun mengajak masyarakat mulai menerapkan pengelolaan sampah secara sederhana dari rumah masing-masing. Langkah kecil tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya bersama untuk mewujudkan Kota Sukabumi yang lebih bersih, sehat, dan ramah lingkungan.
Jurnalis: Evi Susanti





