Dari Konsep WINIH Kecamatan Cidolog Bangun Wisata Berbasis Alam Dan Kearifan Lokal

Advertisement

Cari Blog Ini

Powered By Blogger

Label

Pengikut

Arsip Blog

Wikipedia

Hasil penelusuran

Entri yang Diunggulkan

Rian Terpilih sebagai Ketua FORSSMI, Bertekad Kembangkan Seni Sukabumi hingga Tingkat Nasional

KABAR UPDATE |SUKABUMI – Rian, Ketua FORSSMI terpilih, menyampaikan komitmennya untuk memajukan dunia seni di Sukabumi melalui penguatan ke...

Dari Konsep WINIH Kecamatan Cidolog Bangun Wisata Berbasis Alam Dan Kearifan Lokal

KABAR UPDATE
Selasa, 01 September 2026


KABAR UPDATE  | SUKABUMI - Kabupaten Sukabumi, tengah menyiapkan konsep desa wisata yang tidak bertumpu pada pembangunan wahana buatan. Gagasan itu dikemas melalui Desa Wisata WINIH, dengan pertanian, alam dan kehidupan masyarakat sebagai daya tarik utama.


Camat Cidolog Yusup Suherlan menjelaskan, WINIH yang berarti benih dalam bahasa Sunda membawa filosofi bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal kecil.


“Dalam konsep ini, wisatawan tidak hanya datang melihat pemandangan, tetapi diajak mengenal proses kehidupan desa, mulai dari benih, menanam, merawat, memanen hingga mengolah hasilnya,” ujar Yusup.


Konsep tersebut mengusung tagline Ti Winih Jadi Hirup, Ti Alam Jadi Élmu, yang menggambarkan perjalanan dari benih menjadi kehidupan dan dari alam menjadi pengetahuan.


Menurut Yusup, pengembangan WINIH tidak berdiri sendiri. Pemerintah Kecamatan Cidolog mendorong konsep tersebut melalui pemberdayaan masyarakat, dengan mengoptimalkan potensi yang telah tumbuh di tengah kehidupan warga.


“Gagasan ini didorong melalui pemberdayaan masyarakat agar potensi lokal yang ada bisa memberikan manfaat langsung kepada warga,” tambahnya.


Dorongan tersebut kemudian diterjemahkan melalui berbagai program pemberdayaan yang melibatkan masyarakat. Pengembangan potensi lokal di sejumlah wilayah agar dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.


Di tingkat desa, konsep WINIH diarahkan untuk memanfaatkan potensi yang selama ini sudah hidup di tengah masyarakat Tegallega. Sawah, kebun, tanaman kelapa, lingkungan, kuliner, budaya hingga UMKM akan dikemas menjadi pengalaman wisata yang edukatif sekaligus memiliki nilai ekonomi.


“Konsep ini secara khusus tidak mendorong membangun kawasan wisata buatan secara besar-besaran. Jadi aktivitas masyarakat sehari-hari yang menjadi modal utamanya,” ungkapnya.


Jurnalis: Ayi Suherman